Remaja Masjid Al-Muarrafah

Remaja Masjid Al-Muarrafah Kp. Pos Nirwana Estate Rt 03/10 Pakansari Cibinong

Thumbnail Recent Post

Gambar Foto Masjid jami Al Muarrafah

Masjid Jami Al Muarrafah Kp.Pos Cikaret Nirwana Estate Rt.03 RW.10 Pakansari Cibinong Bogor 16915 pengurus DKM Ketua HIA Kafludin Sekretaris Masrih. S.Si , Nasiruddin. AMd Bendahara H. Machmud

Gambar Foto Masjid jami Al Muarrafah

Foto masjid jami Al Muarrafah tampak dari depan yang sampai saat ini masih membutuhkan bantuan dana untuk renovasi masjid terutama untuk pagar depan masjid. untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi 021.8750170 (H.Machmud) atau 0817.901.9102 (Masrih. S.Si) atau 0816.135.4762 (Nasiruddin, AMd)

Gambar Foto Masjid jami Al Muarrafah

Investasikan harta anda untuk tujuan akhirat kelak. Salurkan bantuan anda ke Masjid Jami Al Muarrafah melalui Bank Syariah Mandiri cabang cibinong No. Rekening 043 003 405 3 a/n Nasiruddin dan Masrih qq Masjid Jami Al Muarrafah

Gambar Foto Masjid jami Al Muarrafah

Foto masjid jami Al Muarrafah tampak dari dalam pengimbaran Imam, sampai saat ini Masjid Al Muarrafah masih membutuhkan bantuan dana untuk renovasi masjid terutama untuk pagar depan masjid. untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi 021.8750170 (H.Machmud) atau 0817.901.9102 (Masrih. S.Si) atau 0816.135.4762 (Nasiruddin, AMd)

Gambar Foto Masjid jami Al Muarrafah

Investasikan harta anda untuk tujuan akhirat kelak. Salurkan bantuan anda ke Masjid Jami Al Muarrafah melalui Bank Syariah Mandiri cabang cibinong No. Rekening 043 003 405 3 a/n Nasiruddin dan Masrih qq Masjid Jami Al Muarrafah

Pakai Kerudung-Peci 'Dibikin Rame', Petugas Tol di Bali Diprotes Ormas Hindu

Pakai Kerudung-Peci 'Dibikin Rame', Petugas Tol di Bali Diprotes Ormas Hindu

BADUNG, BALI (voa-islam.com) -  Kebijakan yang awalnya sebagai bentuk toleransi antar umat beragama kini diprotes oleh Aliansi Hindu Bali yang terdiri dari Cakrawahyu, Yayasan Satu Hati Ngrestiti Bali, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara dan Pusat Kooordinasi Hindu Nusantara.

Protes itu mereka sampaikan dengan menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor PT Jasa Marga Bali Tol bertujuan mendesak agar imbauan tersebut dicabut.

Dalam aksinya mereka bertemu dengan pihak PT Jasa Marga Bali Tol yang diwakili Hadi Purnama selaku Manager Operasional, serta Manajer PT Lingkarluar Jakarta, Budi Susetyo.

Pada pertemuan itu akhirnya disepakati untuk mencabut kebijakan itu dan meminta untuk meminta maaf secara tertulis melalui media cetak maupun online.

Salah satu tokoh Hindu, I Gusti Ngurah Artha menyambut baik itikad PT Jasa Marga Bali Tol yang mau mencabut kebijakannya dan meminta maaf secara tertulis melalui media kepada seluruh masyarakat Bali.

"Kita harapkan toleransi yang dilakukan PT Jasa Marga Bali Tol tidak dalam bentuk seperti itu yaitu menggunakan busana arab bagi masyarakat Bali," ujar Ngurah Artha, Rabu (16/7/2014).

Hal itu, menurut Ngurah Harta akan menimbulkan permasalahan di Bali karena akan muncul rasa kecurigaan, terutama jika ada hal yang berbau di luar keyakinan di Bali.

"Kita ingin sebagai negara yang menganut kebhinekaan, hal tersebut memang harus tetap dipertahankan," harapnya.

Hal yang sama juga diutarakan Ketua Cakrawahyu, Putu Dana yang menyebutkan polemik tersebut telah usai. "Kami sangat berterimakasih atas niat dari PT Jasa Marga Bali Tol. Kami tidak mau kalau adat dan budaya kami ditekan, karena hal-hal seperti itu sangat menekan kita sebagai orang Bali," jelasnya.

Terkait protes itu, PT Jasa Marga Bali Tol yang diwakili oleh I Gusti Lanang Bagus W selaku Manager Teknik PT Jasa Marga Bali Tol menyatakan tidak ada aturan secara tertulis yang mewajibkan menggunakan kerudung dan peci. Pasalnya, hal itu hanyalah berupa imbauan belaka.

"Itu bukan kebijakan PT Jasa Marga Bali Tol. Ini kebijakan PT Lingkarluar Jakarta. Kalau kami tahu persisnya ada kebijakan tersebut, kami tidak akan membiarkan hal itu jika beresiko mengundang permasalahan," ungkapnya.

Adanya protes ini, pihaknya mengaku akan mengawal hal tersebut agar tidak terulang kembali dan memastikan kebijakan tersebut akan dicabut. Sebagai putra Bali, Gusti Lanang merasa memiliki kewajiban untuk ikut bertanggungjawab dan mengawal hal tersebut.
Protes Mantan Artis Hindu, Arya Wedakarna
Penggunaan Jilbab dan Peci 'dibikin rame' di Bali. Adalah Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III atau biasa dipanggil Arya, mantan artis dan anggota DPD beragama hindu ini menyuarakan penolakannya pada penggunaan jilbab dan peci pada petugas tol laut Bali Mandara.
Anehnya ia mengecam Peci dan Jilbab, padahal Soekarno - sosok yang ia kagumi- menggunakan Peci, hal ini kontradiktif mengingat Arya adalah President  The Sukarno Center Tampaksiring – Bali.
Tindakan Arya yang mantan bintang film dan cover boy yang lazimnnya santun justru menuai kecaman. Mungkinkah ini skenario 'bikin rame' seperti yang dituturkan Jokowi sebelumnya?
Anehnya ia mengecam Peci dan Jilbab, padahal Soekarno menggunakan Peci, hal ini kontradiktif mengingat Arya adalah President  The Sukarno Center Tampaksiring – Bali.
Ia menulis kecamannya pada Facebook sebagai berikut : disini

"Saya kecam kebijakan manajemen Jalan Tol Bali yg menerapkan aturan petugas jalan toll memakai jilbab dan peci selama Ramadhan. Hal ini sudah menjadi kontroversi dan meresahkan. Ini Bali Bung !!! The Island Of A Thousand Temple NOT The Land Of Arab / Qurawa. Kalau tdk sanggup hormati budaya Bali, silahkan keluar pulau ! Sy dukung petisi ganti pejabat kearab2an. Lawan gerakan syariah di Bali ! (Dr.W)"
Kecaman serta protes dari aliansi Hindu Bali terkait kebijakan dari PT Jasa Marga Bali Tol yang mengimbau agar petugas gerbang Tol Bali Mandara mengenakan kerudung dan peci selama Ramadan hingga Idul Fitri, beberapa warga Bali juga menyuarakan aksi protes mereka di media sosial.
Namun penolakan atas himbauan PT Jasa Marga Bali Tol tersebut sudah menjurus ke arah sentimen SARA. Bahkan salah satu warga Bali di jejaring sosial Facebook dengan tegas menyebut kebijakan tersebut sangat meresahkan dengan menegaskan bahwa Bali bukan tanah Arab yang ia samakan dengan “Qurawa”. Tidak hanya itu, warga Bali itu menuntut pejabat kearab-araban yang ada di Bali untuk diganti serta mengecam adanya gerakan syariah di Bali.
Seperti dilaporkan sebelumnya, kebijakan mengenakan kerudung dan peci selama Ramadan hingga Idul Fitri oleh PT Jasa Marga Bali Tol awalnya hanya sebagai bentuk toleransi antar umat beragama dan bentuknya sekedar anjuran bukan kewajiban. Pada Rabu kemarin Aliansi Hindu Bali yang terdiri dari Cakrawahyu, Yayasan Satu Hati Ngrestiti Bali, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara dan Pusat Kooordinasi Hindu Nusantara secara resmi melakukan aksi protes di depan Kantor PT Jasa Marga Bali Tol yang bertujuan mendesak agar imbauan tersebut dicabut.
Atas desakan Arya, Jasa Marga Bali pd 16/7 sdh kirim surat ke The Hindu Center Indonesia&cabut kebijakan Peci Kerudung di Jalan Tol Bali sebagaimana foto surat yang ia kicaukan di Twitter.



Siapakah Arya?

Arya memiliki gelar adat Raja Majapahit Bali Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX Abhiseka Ratu Purnamaning Kapitu, 31 Desember 2009 Di Pura Agung Besakih Oleh Penglingsir Puri Pusat Surya Majapahit Trowulan Jawa Timur dan President World Hindu Youth Organization ( WHYO ), selengkap disini.
Ia juga mantan Model Coverboy Majalah Aneka Jakarta Tahun 1997, Top Model Indonesia Tahun 1997, pada tahun 1997 - 2003 Coverboy Majalah Aneka Yess Jakarta, Pemeran Utama Film Membuka Hati Angga, Pemain Utama Sinetron TV “ Dancing With Colors “ serta mantan penyiar Radio Indika 91,45 FM Jakarta.
Mantan artis yang lazimnya cenderung humanis dan supel ini rupanya tak ditemui Arya yang kini menjadi anggota senator dari Bali. Seperti sikap dukungannya pada PDIP dan Jokowi yang anti Islam menular kepada Arya yang pernah kuliah di STMT Trisakti ini.
Coba saja jika ia tak menggugat topi ala sinterklas daag natalan di Bali maka wajib kita tunjukkan sikap Arya yang anti Islam ini. [adivammar/inilah/voa-islam.com]







Jum'at , 20 Ramadhan 1435 H / 18 Juli 2014  @ www.eramuslim.com...Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Pada tayangan “Tafsir Al-Misbah” yang disiarkan oleh Metro TV pada Sabtu, 12 Juli 2014/ 14 Ramadhan 1435H, Prof DR Quraish Shihab mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dijamin masuk surga.
Pernyataan Quraish Shihab itu dapat dinilai, menimbulkan keraguan bagi Umat Islam. Karena mengandung mafhum mukhalafah (pengertian tersirat), lha Nabi saja tidak dijamin masuk surga, apalagi hanya sahabatnya, apalagi hanya pengikutnya dan seterusnya. Lha Nabi yang diutus membawa Islam untuk umatnya saja tidak dijamin masuk surga, kenapa yang hanya umatnya cape’-cape’ mengikutinya? Dan ungkapan lain yang senada.

Tentu saja lontaran itu dari segi kehidupan da’wah Islamiyah membahayakan. Karena akan menimbulkan aneka macam perendahan terhadap Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, yang dampak buruknya beraneka macam, menyangkut akan timbulnya keraguan terhadap benarnya Islam.
Di samping membahayakan, memang lontaran Quraish Shihab itu secara metode pemahaman (Islam) perlu dipertanyakan. Karena Quraish Shihab berbicara masalah sangat besar, tentang Nabi tidak dijamin masuk surga, itu adalah wilayah ghaib. Berbicara tentang hal ghaib hanya boleh bila berdasarkan dalil yang jelas. Sedangkan Quraish Shihab tidak menempuh jalan itu.
Coba mari kita simak tentang pernyataan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam kaitannya dengan dirinya di surga. Dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari sebagai berikut :

5304- حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ 
الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: Saya dan penjamin / pemelihara anak yatim itu di surga begini, dan beliau mengisyartkan dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau merenggangkan antara keduanya sedikit. (HR Al-Bukhari nomor 5304).


Dari hadits riwayat Al-Bukhari itu, apakah mungkin, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (kalau mengikuti faham Quraish Shihab bahwa Nabi saw tidak dijamin masuk surga) berani menjamin orang lain? Sedangkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah bohong. Lagi pula beliau hanya mengikuti wahyu. Dan itu telah ditegaskan dalam Al-Qur’an,

{ قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ } [الأحقاف: 9]

 Katakanlah: “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.(QS Al-Ahqaf/46:9).

Ketika hanya mengikuti wahyu, berarti perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa dia dan yang menjamin/ memelihara anak yatim itu di dalam surga, berarti perkataannya itu tentu dari wahyu. Pasti itu jaminan Allah Ta’ala yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Lantas ketika Quraish Shihab mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dijamin masuk surga, itu mengikuti wahyu siapa?
Wahyu hanya bisa dibatalkan oleh wahyu pula. Tidak bisa wahyu dari Allah Ta’ala yang telah disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu dibatalkan oleh siapapun, karena wahyu sudah sempurna, tidak ada wahyu yang datang lagi untuk membatalkan yang telah diterima dan disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal itu telah ditegaskan dalam Al-Qur’an,

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS Al-Maaidah: 3).

زاد المسير في علم التفسير (2/ 170، بترقيم الشاملة آليا)
 أنه أمن هذه الشريعة من أن تنسخ بأخرى بعدها ، كما نسخ بها ما تقدمها

Bahwasanya syari’at Islam ini aman dari penghapusan/penggantian dengan yang lainnya setelahnya, sebagaimana (telah diketahui, justru) syari’at Islam telah menghapus/ mengganti syari’at yang sebelumnya. (Zadul Masir 2/170 menurut maktabah syamilah).
Kasus Quraish Shihab mengatakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dijamin masuk surga itu ada beberapa kelancangan, di antaranya:
Dia berbicara tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan dikatakan tidak dijamin masuk surga, namun bicaranya tanpa  nash (dalil yang jelas). Mestinya, Quraish Shihab mengemukakan nashnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga. Yang dilakukan Quraish Shihab hanyalah seperti dalam berita ini:

Pada tayangan “Tafsir Al-Misbah” yang disiarkan oleh Metro TV pada Sabtu, 12 Juli 2014, Prof DR Quraish Shihab mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dijamin masuk surga.

Tayangan yang akhirnya diunggah di Youtube itu, alumni universitas Al Azhar ini berdalil dengan hadits tentang amalan shalih itu merupakan salah satu faktor yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga.
“Tidak benar. Saya ulangi lagi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Nahh.. surga itu hak prerogratif Allah. Ya tho? memang kita yakin bahwa beliau mulia. kenapa saya katakan begitu? Karena ada seorang sahabat nabi dikenal orang… terus teman-teman disekitarnya berkata, bahagialah engkau akan mendapat surga. Kemudian nabi dengar, siapa yang bilang begitu, nabi berkata, tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya, dia berkata baik amalnya akan masuk surga, surga adalah hak prerogratif Tuhan,” ujar Quraish Shihab dalam rekaman yang diunggah di Youtube.
“Kalau ditanya, kamu pun tidak wahai Muhammad? kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya. jadi kita berkata, kita berkata dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin tuhan kecuali kita katakan bahwa tuhan menulis di dalam kitab sucinya bahwa yang taat itu akan dapat surga. Ada ayatnya,” tambah Quraish Shihab yang kemudian langsung menuai kecaman.
Demikianlah beritanya.

Penjelasan itu hanyalah rekaan Quraish Shihab. Bukan nash. Sedangkan tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di surga, coba kita lihat kembali hadits shahih tersebut:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا

Saya (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan penjamin/ pemelihara anak yatim itu di dalam surga begini…
Itu nash, jelas.
Di dalam Islam, nash (dalil ayat atau hadits yang jelas tegas) itu tidak dapat dibantah dengan dalil yang maknanya belum/ tidak tegas. Lha ini, sudah ada nash, lalu Quraish Shihab membuat analisa sendiri, yang tingkatnya bukan dalil.

Bagaimana jadinya ketika memahami Islam apalagi hal ghaib tentang surga dan ketentuan Allah tapi landasannya hanya analisa ? Tentu saja analisa itu gugur sebelum berkembang. Apalagi ketika ternyata ada nash dan jelas bertentangan dengan analisa itu.
Kecuali kalau Quraish Shihab sengaja mendudukkan diri sebagai pembawa agama baru, misalnya, maka itu soal lain. Selama masih mengaku bahwa itu berbicara untuk memahami Islam, maka Quraish shihab hanya disebut lancang itu sudah terlalu halus.

Bagaimanapun, ungkapan Quraish Shihab itu berbahaya. Baik secara makna, dampak, maupun apalagi manhaj (metode) dalam memahami Islam.
Yang jadi pertanyaan sekarang, orang yang manhajnya membahayakan, masih layakkah menyiarkan fahamnya terhadap Umat Islam di negeri yang jumlah Islamnya terbesar di dunia ini ? Dan masih layakkah bukunya yang disebut Tafsir Al-Misbah itu disodorkan ke hadapan Umat Islam ? Lagi pula masih layakkah dia jadi guru besar di perguruan tinggi Islam ?

Mulai banyak yang sering melancarkan tuduhan syi’ah di dunia online dan jejaring sosial secara membabi buta. Mereka sendiri banyak tidak paham mengenai hakikat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni/Aswaja) dan tidak paham mengenai syi’ah. Misalnya, hanya karena berbeda pandangan politik, langsung di vonis syi’ah, dan banyak kasus lainnya. Hal semacam itu tidak lain karena ketidak-tahuan mereka.

Berikut beberapa ikhtisar mengenai perbedaan antara ajaran Sunni (Ahlussunnah wal jama’ah  Aswaja) dan Syi’ah dalam bidang teologi (aqidah), hukum (fiqh), bidang politik dan lainnya.

Dalam Bidang Aqidah
1. Dalam bidang aqidah kita (Sunni)  menyakini rukun Islam ada 5 (Syadatain, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji) dan rukun Iman ada 6 (Iman pada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, hari Kiamat dan Qadha’ dan qadar).
Adapun rukun Islam Syi’ah terdiri dari: Shalat, Shaum (puasa), Zakat, Haji dan Wilayah. Sedangkan syahadat mereka, tidak hanya hanya Syahdatain (2 kalimat syahadat) tetapi ditambah dengan menyebut 12 imam (Tiga kalimat syahadat).

Sedangkan rukun Iman Syi’ah hanya ada 5, yaitu: Tauhid, Nubuwwah, Imamah, al-‘Adl dan Ma’ad.

2. Dalam bidang aqidah kita menyakini bahwa al-Qur’an tetap orisinil,  surga diperuntukkan bagi orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya , neraka diperuntukkan kepada orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Adapun Syi’ah, menyakini bahwa al-Qur’an tidak orisinil dan sudah di ubah oleh sahabat (dikurangi da ditambah), surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta pada Imam Ali dan neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali.

3. Rujukan hadits kita adalah Kutub al-Sittah (Shahih al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Turmidzi, Ibnu Majah dan An-Nasa’i).
Adapun Syi’ah, memiliki rujukan hadits sendiri seperti Al Kutub al-Arba’ah yaitu Al Kafi, Al Ibtishar, Man La Yadhuruhu al Faqih, dan At-Tahdzib.
Dalam Bidang Fiqh (Hukum)
1. Mashadir al-tasyri’ (sumber hukum) kita adalah Al Qur’an, As-Sunnah (al-Hadits), serta Ijma dan Qiyas (analogi hukum) sebagai tambahannya.
Adapun Syi’ah, mashadir al-tasyri-nya adalah (1) al-Qur’an daan As-Sunnah, (2) Sima (pendengaran) dari Rasulullah, (3) Kitab Ali, disebut Al Jami’ah, (4) al-Isy-raqat al-Ilahiyyah
2. Kita berpandangan bahwa potensi ijtihad terbuka dalam ranah yang belum dijelaskan oleh nash al-Qur’an dan Sunnah.
Adapun Syi’ah, potensi ijtihad juga terbuka namun dalam ranah selain imamah.
3. Rujukan fikih kita mengambil dari imam madzhab 4 yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Adapun Syi’ah, mengambil fiqih dari para imam Syi’ah.

Dalam Bidang Politik
1. Kita (Sunni) mengakui bahwa Khufaur Rasyidin yang sah adalah Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq, Umar al-Faruk (Umar bin Khattab), Utsman bin Affah dan Ali bin Abi Thalib.
Adapun Syi’ah tidak mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman karena dianggap merampas kekhalifahan Sayyidina Ali.

Namun ada Syi’ah yang masih mengakui semuanya (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) yaitu Syi’ah Zaidiyah.
2. Kita (Sunni) berpandangan bahwa pemimpin atau imam tidak terbatas pada 12 imam dan percaya pada imam-imam itu tidak termasuk rukun iman, kita juga berpendangan bahwa khalifah (imam) tidak ma’shum atau mereka bisa berbuat salah/dosa/lupa.
Adapun Syi’ah berpandangan bahwa kepemimpinan hanya sebatas 12 imam dan termasuk rujukan iman mereka. Mereka juga menyakini kema’shuman 12 imam tersebut seperti para Nabi.
3. Kita (Sunni) berpandangan bahwa pemimpin (imam) diangkat melalui kesepatakan ahlul halli wal aqdi, atau orang yang mengangkat dirinya sendiri (dalam kondisi darurat), kemudian ia dibai’at oleh ahlul halli wal aqdi dan rakyat.
Adapun menurut Syi’ah, pemimpin sudah ditentukan oleh Allah (nas Ilahi) bukan pilihan rakyat.
4. Dalam hal hukum mengangkat imam. Kita (Sunni) berpandangan bahwa kepemimpinan hukumnya wajib karena dalil-dalil syari’at.
Adapun Syi’ah, berpandangan bahwa hukumnya wajib berdasarkan nas Ilahiy.
5. Dalam hal syarat pemimpin. Kita (Sunni) berpendangan bahwa pemimpin harus memenuhi empat syarat, yaitu (1) berasal dari suku Quraisy (pada tahap berikutnya terjadi perbedaan pendapat mengenai hal ini), (2) Bai’at, (3) Syura, dan (4) Adil
Adapun Syi’ah, pemimpin harus berasal dari Ahlul Bait.

Perbedaan Lainnya
1. Kita (Sunni) dilarang mencaci maki sahabat Rasulullah Saw. Kita juga sangat menghormati Sayyidah Aisyah istri Rasulullah Saw, serta menyatakan bahwa para istri Rasulullah Saw termasuk ahlul bait.
Adapun menurut Syi’ah, mencaci maki para sahabat tidak apa-apa bahkan mereka berkeyakinan, para sahabat menjadi murtad setelah Rasulullah Saw wafat dan hanya tersisi beberapa sahabat saja. Alasan murtadnya karena para sahabat membai’at Abu Bakar al-Shiddin sebagai khalifah. Syi’ah juga mencaci maki Sayyidah Aisyah dan tidak menggolongkan istri Rasulullah Saw sebagai ahlul bait.
2. Tentang Raj’ah. Kita (Sunni) tidak menyakininya.
Adapun Syi’ah menyakini aqidah raj’ah. Raj’ah adalah keyakinan bahwa kelak di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali, dimana pada saat itu ahlul bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
3. Terkait Imam Mahdi. Menurut kita (Sunni), Imam Mahdi adalah sosok yang akan membawa keadilan dan kedamaian.
Adapun Syi’ah, mereka punya Imam Mahdi sendiri yang berlainan dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut Syi’ah, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya kemudian pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah Saw, Imam Ali, Fatimah dan ahlul bait lainnya. Selanjutnya, ia akan membangunkan Abu Bakar, Umar dan Aisyah. Ketiga orang tersebut akan disiksa sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka pada ahlul bait.
4. Terkait nikah Mut’ah, Khamar dan Air. Bagi kita (Sunni) mut’ah hukumnya haram, khamar hukumnya tidak suci (najis), dan air yang dipakai istinja’ (cebok) tidak suci.
Adapun bagi Syi’ah, mut’ah halal dan dianjurkan, khamar tidak najis, dan air yang telah dipakai istinja’ dianggap suci dan mensucikan.
5. Dalam hal shalat. Kita (Sunni) meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah, mengucapkan amin juga sunnah, shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i. Shalat dhuha disunnahkan.
Adapun bagi Syi’ah, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat, mengucapkan amin di akhir sudah al Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/batal shalatnya, dan shalat jama’ diperbolehkan tanpa alasan apapun. Shalat dhuha tidak dibenarkan.

Ciri Khas Aqidah Sunni
Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni) meyakini bahwa Allah itu Ada tanpa arah dan tanpa tempat. Inilah ciri khas Sunni sekaligus membedakan antara Ahlussunnah wal Jama’ah dengan aliran-aliran lainnya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an surah al-Syura ayat 11. (*)
Penulis : Ibnu Manshur/Arats
Sumber : Buku Risalah Ahlussunnah wal-Jama’ah – Dari pembiasaan menuju pemahaman dan pembelaan Akidah Amaliah NU. Ditulis oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Tim penulis antara lain : KH. Abdurrahman Navis, Lc., M.H.I., Muhammad Idrus Ramli, dan Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. Penerbit “Khalista” Surabaya, Cetakan 1 tahun 2012. Halaman 11-14, dan 46-48.





 
(Arrahmah.com) – Qais bin Abbad menceritakan, “Saat itu saya sedang duduk-duduk di masjid nabawi bersama orang-orang. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memasuki masjid, wajahnya menunjukkan tanda-tanda kekhusyu’an. Laki-laki itu melakukan shalat dua raka’at dengan ringkas, tidak terlalu panjang. Melihat orang yang shalat itu, orang-orang berkata: “Orang ini adalah seorang penghuni surga.”

Ketika laki-laki itu telah menyelesaikan shalat dan keluar dari masjid, saya segera mengikutinya sampai ia masuk ke dalam rumahnya. Saya pun ikut masuk ke dalam rumah bersamanya. Saya mengobrol dengannya beberapa saat lamanya. Saat ia sudah mulai akrab denganku, saya pun bercerita apa adanya kepadanya: “Saat Anda tadi masuk ke masjid, orang-orang bercerita begini dan begitu tentang diri anda.”


Laki-laki itu menjawab, “Subhanallah, tidak selayaknya orang berbicara tentang hal yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya. Aku akan menceritakan kepadamu kenapa sampai seperti itu.”

Laki-laki itu memulai ceritanya. Katanya, “Suatu hari aku bermimpi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, maka aku pun menceritakan mimpiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Dalam mimpiku, aku melihat diriku berada di sebuah taman yang sangat hijau dan luas. Di tengah-tengah taman itu ada sebuah tiang dari besi, bagian bawahnya menancap di bumi namun bagian atasnya berada di langit, dan pada bagian atas tiang itu ada seutas tali yang besar.”
Tiba-tiba ada sebuah suara yang mengatakan kepadaku, “Panjatlah tiang ini!”
“Aku tidak bisa,” jawabku.
TIba-tiba ada seseorang yang membantuku. Dia mengangkat kainku dari belakang punggungku dan mengatakan kepadaku, “Panjatlah tiang ini!”
Akhirnya aku bisa memanjat tiang itu sampai ke puncaknya. Aku pun meraih seutas tali yang besar di puncak tiang itu.
Laki-laki yang membantuku itu berkata, “Pegang erat-erat tali itu!”
Mendadak aku terbangun dari tidurku. Anehnya, seutas tali itu masih berada di tanganku. Aku segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan menceritakan mimpi anehku kepada beliau. Beliau menjelaskan makna mimpiku dengan bersabda,

أَمَّا الرَّوْضَةُ فَرَوْضَةُ الْإِسْلَامِ، وَأَمَّا الْعَمُودُ فَعَمُودُ الْإِسْلَامِ، وَأَمَّا الْعُرْوَةُ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى أَنْتَ عَلَى الْإِسْلَامِ حَتَّى تَمُوتَ

“Kebun hijau itu adalah kebun Islam. Tiang kebun itu adalah tiang Islam. Seutas tali itu adalah seutas tali yang kokoh (dua kalimat syahadat). Engkau akan senantiasa memegang erat Islam sampai engkau meninggal.”
Qais bin Abbad mengakhiri ceritanya dengan mengatakan, “Laki-laki itu adalah Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu.” (HR. Bukhari no. 7010, Muslim no. 2482, Ahmad no. 23787 dan Al-Hakim no. 8190, dengan lafal Ahmad dan Al-Hakim)


Abdullah bin Salam adalah seorang pendeta dan ulama Yahudi di Madinah. Ia sangat menguasai kitab Taurat. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, ia bersama penduduk Madinah menyambut kedatangan beliau.

Ia melihat tanda-tanda fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sama persis dengan tanda-tanda nabi akhir zaman yang diwahyukan dalam Taurat. Maka ia mengajukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tiga pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh seorang nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mampu menjawab semua pertanyaan itu, maka ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.


Kaum Yahudi marah besar dengan keislamannya. Mereka mencaci maki dirinya, bahkan berusaha untuk membunuhnya. Semua gangguan itu tidak melemehakan keislaman Abdullah bin Salam. Ia tetap setia mendampingi perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dalam semua peperangan beliau sampai beliau wafat. Ia setia berjihad dengan pasukan Islam pada masa pemerintahan khulafa’ rasyidun. Bahkan di masa khalifah Umar bin Khathab, ia ikut dalam penaklukan Baitul Maqdis dan Nahawand.
Perbincangan orang-orang di masjid nabawi bahwa Abdullah bin Salam adalah calon penghuni surge bukanlah sebuah obrolan yang tanpa landasan ilmu. Abdullah bin Salam memang seorang yang rendah hati, tidak sombong dan tidak ingin membanggakan dirinya. Para sahabat senior telah mendengar langsung sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa Abdullah bin Salam adalah seorang penghuni surga.
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَيٍّ مِنَ النَّاسِ يَمْشِي: ” إِنَّهُ فِي الْجَنَّةِ ” إِلا لِعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلامٍ
Dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda tentang seseorang yang masih hidup dan berjalan (di muka bumi): “orang itu berada di surga”, kecuali tentang Abdullah bin Salam.” (HR. Bukhari no. 3812, Muslim no. 2483 dan Ahmad no. 1453)
Dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya sebuah nampan bubur halus dibawakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau memakan bubur itu dan menyisakan sebagiannya. Beliau lalu bersabda,
يَدْخُلُ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَأْكُلُ هَذِهِ الْفَضْلَةَ
Dari arah ini akan masuk ke dalam seorang penghuni surga yang akan memakan sisa bubur ini.”
Sa’ad berkata: “Saat itu aku meninggalkan adikku, Umair bin Abi Waqash sedang berwudhu dan hendak menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Aku berharap dialah yang muncul dari arah itu, namun ternyata laki-laki yang datang dan memakan sisa bubur itu adalah Abdullah bin Salam.” (HR. Ahmad no. 1458, 1591, Abu Ya’la no. 754, Al-Bazzar no. 1156, Ibnu Hibban no. 7164 dan Al-Hakim no. 5759, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)
Dalam wasiat di akhir kehidupannya, sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata:
وَالْتَمِسُوا الْعِلْمَ عِنْدَ أَرْبَعَةِ رَهْطٍ: عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ، وَعِنْدَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَّامٍ الَّذِي كَانَ يَهُودِيًّا، ثُمَّ أَسْلَمَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّهُ عَاشِرُ عَشْرَةٍ فِي الْجَنَّةِ»
“Carilah ilmu pada empat orang: Uwaimir Abu Darda’, Salman Al-Farisi, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Salam yang dahulunya Yahudi kemudian masuk Islam, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda tentang Abdullah bin Salam: “Ia adalah orang kesepuluh dari sepuluh orang penghuni surga.” (HR. Tirmidzi no. 3804, An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 8253, Ahmad no. 22104, Al-Hakim no. 334, dan Ibnu Hibban no. 7165, hadits shahih)



Saudaraku seislam dan seiman…
Demi mempertahankan keislamannya, Abdullah bin Salam berani menanggung segala resiko. Abdullah bin Salam sangat terkesan dengan pesan-pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Pesan-pesan itu dijaganya sampai ia meninggal.
Abdullah bin Salam menceritakan salah satu pesan yang sangat dipegang teguh olehnya. Katanya, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, penduduk berbondong-bondong datang untuk menyambutnya. Ada orang yang meneriakkan: “Nabi telah datang. Nabi telah datang. Nabi telah datang.” Waktu itu aku bergabung dengan orang-orang yang hendak menyambut kedatangannya.
Aku datang melihat beliau. Setelah aku telah memperhatikan dirinya, tahulah aku bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar beliau sabdakan pada saat itu adalah,


«يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ»


Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan kepada orang yang kelaparan, sambunglah tali kekerabatan dan laksanakanlah shalat malam saat orang-orang tengah tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”  (HR. Tirmidzi no. 2485, Ibnu Majah no. 1334, Ahmad no. 23784, Ad-Darimi no. 1501 dan Al-Hakim no. 4283, hadits shahih)

Semoga pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga ini bisa kita selalu laksanakan, baik di akhir bulan Ramadhan ini maupun pasca Ramadhan kelak. Wallahu a’lam bish-shawab.
(muhib almajdi/arrahmah.com)